Uis (Kain Karo) banyak sekali bentuk dan motifnya walaupun namnya satu dapat saja motifnya berbeda- beda , dan terus berkembang sesuai zaman (model). Namun demikian setiap nama kain mempunyai tempat dan arti ttersendiri pada sipemakai.
Jenis-Jenis Uis (kain adat):
1. Uis Arinteneng: Warnanya hitam agak hitam pekat , karena kain ini dibuat dari benang kapas yang dicelup dengan sejenis bahan yang warnanya hitam (proses tradisional), dalam bahasa Karo disebut Ipelabuhken.
Pemakaiannya : Kain ini dipergunakan dalam acara pesta pekawinan yaitu pada waktu emas kawin diserahkan kain ini dipakai alas pinggan pasu . Pinggan Pasu (piring) , yang bentuknya cekung dan lebih besar dari dari piring biasa , warnanya putih dan piring ini biasanya punya makna tersendiri.
2. Uis Gatip: Warnanya hitam dan berbintik bintik, pitih ditengah, tepian kain warna hitam pekat dan ujungnya terjalin dan berumbai. Jenis kainnya agak rebal hingga disebut juga uis kapal (kain tebal). Proses pembuatannya juga masih tradisionil.
Pemakaiannya : Dipakai sebagai ose oleh laki- laki dan pada upacara - upacara perkawinan adat, memasuki rumah baru, guro- giro aron ( pesta muda- mudi ) dan sebagainya .
3. Uis jongkit : Warna dan bahannya sama dengan uis gatip , hanya saja uis jongkit ditengah- tengah kain memakai benang emas yang moti melintang melintang pada kain tersebut , hingga warna dan bentuknya lebih cerah.
Pemakaiannya : pemakaiannya sama seperti uyis gatip , kain ini sekarang lebih disenangi dan banyak dipakai pada upacara - upacara adat.
4. Uis Beka Buluh : Warna dasar kainnya merah cerah , bagian tengah bergaris kuning ungu , putih dan pada tepian kain motif- motif Karo dengan benang emas , demikian juga pada ujung kain .Kain ini dipakai sebagai Bulang ( penutup kepala / topi ) pada laki- laki dan dipakai juga sebagai cekok- cekok ( penghias bahu ) yang diletakkan sedemikian rupa pada bahu laki- laki . Kain ini juga biasa diletakkan di atas tudung wanita .
5. Uis Kelam Kelam : Warnanya hitam pekat, bahan kainnya lebih tipis dan polos tanpa motif . Sepintas seperti kain hitam biasa, hanya kain ini lebih keras karena proses pembuatannya juga masih tradisionil.
Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita sebagai tudung pada upacara - upacara adat , tudung yang bahannya dari uis kelam- kelam disebut " Tudung Teger Limpek " , bentuknya khas dan unik . Proses pembuatannya Tudung ini memmang sangat unik , hingga sekarang tidak semua orang dapat membuat tudung ini.
6. Uis Julu: Kain ini tebal seperti kain jongkit / gatip, warnanya hitam kebiru- biruan, tepian kain hitam dan ujungtnya berumbai.
Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita sebagai abit ( kain sarung / kampuh pada upacara - upacara adat.
7. Uis Gara: Warnanya merah tua , dan ada juga yang bergaris- garis kecil warna putih di tengah. Tepian kain warnanya merah tua dan ujungnya berumbai, dan sebagian kain ini memakai benang emas , kain ini jenisnya agak tebal dan sekarang sudah banyak motif- motif baru.
Pemakaiannya : Dipakai sebagai tudung oleh wanita, yang tidak memakai beang emas biasanya dipakai oleh wanita-wanita sehari-hari sebagai penutup kepala di desa. Dan yang memakai benang emas dipakai juga pada upacara-upacara pesta adat sebagai tudung, dan bentuknya lebih pendek dari tudung teger limpek. Proses pembuatannya juga sama dengan teger limpek hanya ini lebih sederhana.
8. Uis Teba: Warnanya hitam kebiru-biruan dan bergaris-garis putih, tepian kain hitam dan ujungnya berumbai, tebal kain hampir sama dengan uis gara. Proses pembuatannya juga masih trasisionil.
Pemakaiannya : bisa dipakai sebagai tudung oleh wanita yang sudah tua ( Buka Singuda- nguda ) dan juga sebagai maneh maneh (tanda mata)* dari wanita yang sudah tua meninggal untuk kalimbubunya (garis ayah) atau asalnya.
9. Uis Ujung-ujungen : Warnanya oleh wanita bersulamkan benang emas dan kedua ujungnya berjumbai benang emas, kain ini tidak selebar kain yang lainnya, bentukknya hampir sama dengan selendang.
Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya di atas tudung dan rumbainya terletak disebelah depan. Pada saat sekarang kain ini jarang digunakan, dan diganti oleh uis beka buluh .
10.Uis Nipes : Kain ini jenisnya lebih tipis dari kain - kain lainnya dan bermacam- macam motif dan warnanya (merah, coklat, hijau, ungu) dan sebagainya .
Pemakaiannya : Sebagai selendang bagi wanita. Masih banyak lagi nama- nama kain yang yang tidak disebuitkan, namun kain-kain diataslah yang selalu dipergunakan pada upacara-upacara adat.
A. OSE PENGANTIN :
1. Pakaian ( OSE ) Pengantin Pria:
a. Uis Nipes / Beka Buluh, untuk bulang-bulang
b. Sertali, untuk hiasan bulang-bulang dan kalung
c. Rudang-rudang, hiasan bulang-bulang
d. Gelang sarong, hiasan tangan kanan
e. UIs Arinteneng / Julu, sebagai gonje
f. UIs remas-remas, sebagai kadang- kadangen
g. Uis Nipes, sebagai cengkok- cengkok
h. Ragi Jenggi , sebagai ikat pinggang
j. Cincin Tapak gajah , sebagai hiasan jari
2. OSE Pengantin Wanita:
a. Kelam- kelam, sebagai tudung (teger limpek)
b. Uis remas-remas, sebagai jujungen
c. Sertali, sebagai hiasan tudung dan kalung
d. Anting- anting kodang- kodang , sebagai cimberah
e. Uis Arinteneng, sebagai abit (sinjang)
f. Uis Nipes, sebagai langge-langge
B. Ose Orang Tua Pengantin terdiri dari:
1. Ose Ayah (Bapa)
a. Uis Nipes / Beka Buluh, sebagai bulang-bulang
b. Uis Arinteneng, ebagai gonje
c. Uis Remas- remas, sebagai kadang- kadangen,
d. Uis Nipes, cengkok-cengkok
e. Raigi Jenggi, sebagai ikat pinggang (benting)
2. Ose Ibu (Nande):
a. Kelam-kelam, sebagai tudung (Teger limpek)
b. Uis rambu- rambu, sebagai junjungen
c. Uis Arinteneng, sebagai abit
d. Uis Nipes, sebagai langge- langge
Selasa, 27 Desember 2011
MERGA KARO
Merga Karo terdapat lima kelompok suku Karo, yaitu: Karokaro, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Klan (nama keluarga) dalam suku bangsa Karo disebut merga berbeda halnya dengan suku bangsa Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba) yang disebut dengan marga.
Cabang-cabang merga suku Karo dan persebarannya.
A. Merga Karokaro dan cabang-cabangnya
- Karokaro Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
- Karokaro Surbakti di Surbakti dan Gajah.
- Karokaro Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
- Karokaro Sinukaban di Kaban dan Sumbul.
- Karokaro Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
- Karokaro Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
- Karokaro Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
- Karokaro Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
- Karokaro Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
- Karokaro Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
- Karokaro Kaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
- Karokaro Sinuhaji di Ajisiempat.
- Karokaro Sekali di Seberaya.
- Karokaro Kemit di Kuta Bale.
- Karokaro Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
- Karokaro Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
- Karokaro Samura di Samura.
- Karokaro Sitepu di Naman dan Sukanalu
- Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
- Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
- Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
- Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
- Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
- Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
- Ginting Beras di Laupetundal.
- Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
- Ginting Jadibata di Juhar.
- Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
- Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
- Ginting Sinusinga di Singa.
- Ginting Jawak di Cingkes (?)
- Ginting Seragih di Lingga Julu.
- Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
- Ginting Pase di …. (lenyap?)
- Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
- Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
- Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
- Tarigan Tua di Pergendangen, Talimbaru.
- Tarigan Tegur di Suka.
- Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
- Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
- Tarigan Gana-gana di Batukarang.
- Tarigan Jampang di Pergendangen.
- Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
- Tarigan Bondong di Lingga.
- Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
- Tarigan Purba di Purba (Simalungun)
I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kawin campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkawinan dengan sesama merga Sembiring).
- Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
- Sembiring Sinulaki di Silalahi.
- Sembiring Keloko di Pergendangen.
- Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri
- Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
- Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
- Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
- Sembiring Brahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
- Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
- Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
- Sembiring Tekang di Kaban.
- Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
- Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
- Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
- Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
- Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
- Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
- Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
- Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
- Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
- Peranginangin Mano di Pergendangen.
- Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
- Peranginangin Pencawan di Perbesi.
- Peranginangin Sinurat di Kerenda.
- Peranginangin Perbesi di Seberaya.
- Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
- Peranginangin Penggarus di Susuk.
- Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
- Peranginangin Uwir di Singgamanik.
- Peranginangin Laksa di Juhar.
- Peranginangin Limbeng di Kuta Jurung, Biru-Biru, Deli Serdang.
- Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
- Peranginangin Keliat di Mardinding.
- Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
- Peranginangin Bangun di Batukarang.
- Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
- Peranginangin Benjerang di Batukarang
Ada pula merga yang melakukan Sejandi yaitu perjanjian tidak saling mengambil atau tidak mengadakan perkawinan antar merga bersangkutan, misalnya : antara Sembiring Tekang dengan Karokaro Sinulingga dan antara Karokaro Sitepu dengan Peranginangin Sebayang.
KARO ADALAH IDENTITASKU!
Suku Karo adalah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari Batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari ke-20 mukim bercampur dengan suku Karo. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Ja Sandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imeum Peuet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.
Wilayah Pengaruh Suku Karo
Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.
Kota Medan
Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.
Kabupaten Dairi
Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo:
Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka.
Eksistensi Kerajaan Haru-Karo
Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darwan Prinst, SH :2004)Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari Batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari ke-20 mukim bercampur dengan suku Karo. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Ja Sandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imeum Peuet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.
Wilayah Pengaruh Suku Karo
Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.
Kota Medan
Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.
Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.
Kabupaten Dairi
Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo:
- Kecamatan Taneh Pinem
- Kecamatan Tiga Lingga
- Kecamatan Gunung Sitember
Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
- Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
- Kecamatan Simpang Simadam
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:
- Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu dll (Jumlah = 18)
- Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero dll (Jumlah = 13)
- Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata dll (Jumlah = 16)
- Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi dll (Jumlah = 14)
- Perangin-angin: Bangun, Kacinambun, Perbesi,Sebayang dll (Jumlah = 18)
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka.
Senin, 26 Desember 2011
INI MUSIKKU!!
Musik adalah bagian dari hidup yang selalu kita lantunkan, dimanapun kita berada terdapat musik yang terlantun. Musik juga sangat berpengaruh dalam kehidupan, musik dapat menggambarkan ekspresi dari diri kita, bagaimana kita, apa yang terjadi tentang kita, dan lainnya.
Berikut saya akan memaparkan beberapa pengertian dan aliran musik.
Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:
- Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar
- Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya.
- Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik
Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.
Berikut adalah daftar aliran/genre utama dalam musik. Masing-masing genre terbagi lagi menjadi beberapa sub-genre. Pengkategorian musik seperti ini, meskipun kadang-kadang merupakan hal yang subjektif, namun merupakan salah satu ilmu yang dipelajari dan ditetapkan oleh para ahli musik dunia.
- Musik Klasik
- Musik rakyat/musik tradisional
- Musik keagamaan
- Gambus
- Kasidah
- Nasyid
- Blues
- Jazz
- Country
- Rock
- Pop
- RnB
Bahkan sekarang banyak pula grup musik yang mengusung lagu berbahasa daerah dengan irama musik rock, jazz dan blues. Grup musik yang membawa aliran baru ini di Indonesia sudah cukup banyak salah satunya adalah Funk de Java yang mengusung lagu berbahasa Jawa dalam musik rock.
Minggu, 25 Desember 2011
HIDUP BUKAN MUDAH, TAPI HIDUP ITU INDAH!
Ketika kita bisa membaca dan mengkaji setiap perjalanan hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai setiap perjalanan hidup yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar.
Hal yang paling berharga dalam kehidupan ialah merasakan kenikmatan persaudaraan, kedekatan, dan cinta yang di dasari oleh kasih. Karena itu semua membawa kita dalam kedamaian, ketenangan jiwa yang sangat berpengaruh pada kehidupan kita.
Sepatutnya dan sepantasnya kita juga bersyukur atas anugerah, berkat, kesehatan, rezeki yang di berikan oleh Tuhan. Karena Dialah yang memberi kita akal dan budi untuk berpikir dalam menghadapi hidup kelam ini. Dan janganlah lupakan dia sebagi Penciptamu, karena dia sungguh dahsyat, agung dan berkuasa atas apa yang ada di dunia ini.
Hidup hanya sekali, jadikan dirimu berharga buat semua orang, karena ingatlah, setiap kita memberi kebaikan maka ada balasan dari tindakan kita tersebut, tetapi janganlah kamu sekalian menginginkan itu semua jika tidak ada ketulusan dalam hati pada setiap tindakan.
JADIKAN DIRIMU BERHARGA DALAM HIDUP!
Langganan:
Postingan (Atom)


