Selasa, 27 Desember 2011

UIS BUSANA ADAT KARO

Uis  (Kain Karo)  banyak sekali  bentuk  dan motifnya  walaupun namnya satu dapat  saja motifnya  berbeda- beda , dan terus berkembang  sesuai zaman  (model). Namun demikian  setiap nama kain  mempunyai tempat dan arti  ttersendiri  pada sipemakai.

Jenis-Jenis Uis  (kain  adat):

1. Uis Arinteneng: Warnanya hitam  agak hitam pekat , karena kain ini dibuat dari  benang  kapas  yang dicelup  dengan sejenis  bahan yang  warnanya hitam (proses tradisional), dalam  bahasa Karo disebut  Ipelabuhken.  
Pemakaiannya : Kain ini dipergunakan  dalam acara pesta pekawinan  yaitu pada waktu  emas kawin  diserahkan  kain ini  dipakai  alas pinggan  pasu . Pinggan Pasu  (piring) , yang  bentuknya cekung  dan lebih besar  dari dari piring biasa , warnanya putih  dan piring ini  biasanya punya makna tersendiri.

 2. Uis Gatip: Warnanya hitam  dan berbintik bintik, pitih ditengah, tepian kain warna hitam pekat  dan ujungnya  terjalin dan  berumbai. Jenis kainnya agak rebal hingga disebut juga uis kapal  (kain tebal). Proses pembuatannya  juga masih tradisionil. 
Pemakaiannya : Dipakai sebagai ose  oleh laki- laki  dan pada upacara - upacara perkawinan adat, memasuki rumah baru, guro- giro aron ( pesta muda- mudi )  dan sebagainya .

3. Uis jongkit : Warna dan bahannya sama dengan  uis gatip , hanya saja  uis jongkit  ditengah- tengah  kain memakai  benang emas  yang moti melintang  melintang  pada kain  tersebut , hingga warna dan  bentuknya  lebih cerah.
Pemakaiannya :  pemakaiannya  sama seperti  uyis  gatip , kain ini sekarang lebih disenangi  dan banyak dipakai  pada upacara - upacara  adat.

4. Uis Beka Buluh : Warna dasar  kainnya  merah cerah , bagian tengah  bergaris kuning  ungu , putih  dan  pada  tepian  kain  motif- motif  Karo  dengan  benang emas , demikian juga pada ujung kain .Kain ini  dipakai sebagai  Bulang ( penutup kepala / topi )  pada  laki- laki  dan dipakai  juga sebagai  cekok- cekok ( penghias bahu )  yang diletakkan  sedemikian rupa  pada bahu laki- laki . Kain ini juga biasa diletakkan  di atas tudung wanita .

5. Uis Kelam Kelam : Warnanya hitam  pekat, bahan kainnya  lebih tipis  dan polos  tanpa motif . Sepintas seperti  kain hitam  biasa, hanya  kain ini  lebih keras  karena proses  pembuatannya  juga masih tradisionil. 
Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita  sebagai tudung  pada upacara - upacara  adat , tudung yang bahannya  dari uis kelam- kelam  disebut  " Tudung Teger  Limpek  " , bentuknya  khas dan unik . Proses pembuatannya  Tudung  ini  memmang sangat unik , hingga sekarang  tidak semua orang dapat membuat tudung ini. 

6. Uis  Julu: Kain ini tebal  seperti   kain jongkit / gatip,  warnanya hitam  kebiru- biruan, tepian kain hitam dan ujungtnya  berumbai. 
Pemakaiannya :  Dipakai  oleh wanita  sebagai abit ( kain sarung / kampuh  pada  upacara - upacara  adat.

7. Uis Gara:  Warnanya merah tua , dan  ada juga  yang bergaris- garis  kecil warna putih  di tengah. Tepian  kain warnanya  merah tua  dan ujungnya  berumbai, dan sebagian kain ini  memakai benang emas , kain ini jenisnya  agak tebal dan sekarang  sudah banyak motif- motif baru.
Pemakaiannya : Dipakai sebagai  tudung oleh wanita, yang tidak  memakai beang  emas biasanya dipakai oleh wanita-wanita  sehari-hari  sebagai penutup  kepala  di desa. Dan  yang memakai  benang emas dipakai juga pada upacara-upacara  pesta adat  sebagai tudung, dan bentuknya  lebih pendek  dari tudung  teger limpek. Proses  pembuatannya  juga sama dengan  teger  limpek  hanya ini  lebih sederhana.

8. Uis Teba: Warnanya hitam kebiru-biruan dan bergaris-garis putih, tepian kain hitam dan ujungnya  berumbai, tebal kain hampir  sama dengan uis gara. Proses pembuatannya juga masih trasisionil.
Pemakaiannya :  bisa dipakai  sebagai tudung  oleh wanita  yang sudah tua ( Buka Singuda- nguda ) dan juga  sebagai maneh maneh  (tanda mata)*  dari wanita yang sudah tua  meninggal  untuk kalimbubunya  (garis ayah)  atau  asalnya. 

9. Uis Ujung-ujungen : Warnanya  oleh wanita bersulamkan  benang emas  dan kedua ujungnya berjumbai benang emas, kain  ini tidak selebar kain yang lainnya, bentukknya  hampir sama dengan selendang. 
Pemakaiannya : Dipakai oleh wanita dan biasanya letaknya di atas  tudung dan rumbainya terletak disebelah depan. Pada saat sekarang  kain ini jarang  digunakan, dan diganti  oleh uis  beka buluh .

10.Uis Nipes :  Kain ini  jenisnya  lebih tipis  dari kain - kain lainnya   dan bermacam- macam  motif  dan warnanya (merah,  coklat, hijau, ungu) dan sebagainya .
Pemakaiannya :  Sebagai selendang  bagi wanita. Masih banyak lagi  nama- nama  kain yang  yang tidak disebuitkan, namun kain-kain diataslah yang selalu dipergunakan pada upacara-upacara  adat.

A. OSE PENGANTIN  :   

1. Pakaian ( OSE ) Pengantin  Pria:
a. Uis Nipes / Beka  Buluh, untuk bulang-bulang
b. Sertali, untuk  hiasan bulang-bulang  dan kalung
c. Rudang-rudang, hiasan bulang-bulang
d. Gelang sarong, hiasan tangan kanan
e. UIs Arinteneng / Julu, sebagai gonje
f.  UIs remas-remas, sebagai kadang- kadangen
g.  Uis Nipes, sebagai cengkok- cengkok
h.  Ragi Jenggi , sebagai  ikat pinggang
j.  Cincin  Tapak gajah , sebagai  hiasan jari 

2.  OSE Pengantin Wanita:
a. Kelam- kelam, sebagai tudung (teger  limpek)
b. Uis  remas-remas, sebagai  jujungen

c. Sertali, sebagai hiasan tudung dan kalung
d. Anting- anting  kodang- kodang , sebagai cimberah
e. Uis Arinteneng, sebagai  abit (sinjang)
f. Uis Nipes, sebagai langge-langge

B.  Ose Orang  Tua  Pengantin terdiri dari:
  
1. Ose  Ayah (Bapa) 
a. Uis Nipes / Beka Buluh, sebagai  bulang-bulang
b. Uis Arinteneng,  ebagai gonje
c. Uis Remas- remas, sebagai  kadang- kadangen,
d. Uis Nipes, cengkok-cengkok
e. Raigi Jenggi, sebagai ikat  pinggang (benting) 


2. Ose  Ibu  (Nande):
a. Kelam-kelam,  sebagai tudung (Teger limpek)
b. Uis rambu- rambu, sebagai junjungen
c. Uis Arinteneng, sebagai abit
d. Uis Nipes, sebagai langge- langge

MERGA KARO


Merga Karo terdapat lima kelompok suku Karo, yaitu: Karokaro, Ginting, Tarigan, Sembiring, dan Perangin-angin. Klan (nama keluarga) dalam suku bangsa Karo disebut merga berbeda halnya dengan suku bangsa Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba) yang disebut dengan marga.
Cabang-cabang merga suku Karo dan persebarannya.
A. Merga Karokaro dan cabang-cabangnya
  1. Karokaro Sinulingga di Lingga, Bintang Meriah, dan Gunung Merlawan.
  2. Karokaro Surbakti di Surbakti dan Gajah.
  3. Karokaro Kacaribu di Kutagerat dan Kerapat
  4. Karokaro Sinukaban di Kaban dan Sumbul.
  5. Karokaro Barus di Barus Jahe, Pitu Kuta.
  6. Karokaro Simbulan di Bulanjulu dan Bulanjahe.
  7. Karokaro Jung di Kutanangka, Kalang, Perbesi, dan Batukarang.
  8. Karokaro Purba di Kabanjahe, Berastagi, dan Lau Cih (Deli Hulu).
  9. Karokaro Ketaren di Raya, Ketaren Sibolangit, dan Pertampilen.
  10. Karokaro Gurusinga di Gurusinga dan Rajaberneh.
  11. Karokaro Kaban di Pernantin, Kabantua, Bintang Meriah, Buluh Naman, dan L. Lingga.
  12. Karokaro Sinuhaji di Ajisiempat.
  13. Karokaro Sekali di Seberaya.
  14. Karokaro Kemit di Kuta Bale.
  15. Karokaro Bukit di Bukit dan Buluh Awar.
  16. Karokaro Sinuraya di Bunuraya, Singgamanik, dan Kandibata.
  17. Karokaro Samura di Samura.
  18. Karokaro Sitepu di Naman dan Sukanalu
B. Merga Ginting dan cabang-cabangnya
  1. Ginting Munte di Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Tanggung, Munte, Rajatengah, dan Bulan Jahe.
  2. Ginting Babo di Gurubenua, Munte, dan Kutagerat.
  3. Ginting Sugihen di Sugihen, Juhar, dan Kutagunung.
  4. Ginting Gurupatih di Buluh Naman, Sarimunte, Naga, dan Lau Kapur.
  5. Ginting Ajartambun di Rajamerahe.
  6. Ginting Capah di Bukit dan Kalang.
  7. Ginting Beras di Laupetundal.
  8. Ginting Garamata di (Simarmata) Raja Tengah, Tengging.
  9. Ginting Jadibata di Juhar.
  10. Ginting Suka Ajartambun di Rajamerahe.
  11. Ginting Manik di Tengging dan Lingga.
  12. Ginting Sinusinga di Singa.
  13. Ginting Jawak di Cingkes (?)
  14. Ginting Seragih di Lingga Julu.
  15. Ginting Tumangger di Kidupen dan Kemkem.
  16. Ginting Pase di …. (lenyap?)
C. Merga Tarigan dan Cabang-cabangnya
  1. Tarigan Sibero di Juhar, Kutaraja, Keriahen, Munte, Tanjung Beringin, Selakar, dan Lingga.
  2. Tarigan Tambak di Kebayaken dan Sukanalu.
  3. Tarigan Silangit di Gunung Meriah.
  4. Tarigan Tua di Pergendangen, Talimbaru.
  5. Tarigan Tegur di Suka.
  6. Tarigan Gersang di Nagasaribu dan Berastepu.
  7. Tarigan Gerneng di Cingkes (Simalungun).
  8. Tarigan Gana-gana di Batukarang.
  9. Tarigan Jampang di Pergendangen.
  10. Tarigan Tambun di Rakutbesi, Binangara, Sinaman dll.
  11. Tarigan Bondong di Lingga.
  12. Tarigan Pekan (Cabang dari Tambak) di Sukanalu
  13. Tarigan Purba di Purba (Simalungun)
D. Merga Sembiring dan Cabang-cabangnya
I. Sembiring Siman biang (Tidak biasa kawin campur darah dengan cabang Sembiring lainnya, artinya: tidak diperbolehkan perkawinan dengan sesama merga Sembiring).
  1. Sembiring Kembaren di Samperaya dan hampir di seluruh urung Liang Melas.
  2. Sembiring Sinulaki di Silalahi.
  3. Sembiring Keloko di Pergendangen.
  4. Sembiring Sinupayung di Juma Raja dan Negeri
II. Sembiring Simantangken biang (ada dilakukan perkawinan antara cabang merga Sembiring)
  1. Sembiring Colia di Kubucolia dan Seberaya.
  2. Sembiring Pandia di Seberaya, Payung, dan Beganding.
  3. Sembiring Gurukinayan di Gurukinayan.
  4. Sembiring Brahmana di Kabanjahe, Perbesi, dan Limang.
  5. Sembiring Meliala di Sarinembah, Munte Rajaberneh, Kedupen, Kabanjahe, Naman, Berastepu, dan Biaknampe.
  6. Sembiring Pande Bayang di Buluh Naman dan Gurusinga.
  7. Sembiring Tekang di Kaban.
  8. Sembiring Muham di Susuk dan Perbesi.
  9. Sembiring Depari di Seberaya, Perbesi, dan Munte.
  10. Sembiring Pelawi di Ajijahe, Perbaji, Kandibata, dan Hamparan Perak (Deli).
  11. Sembiring Busuk di Kidupen dan Lau Perimbon.
  12. Sembiring Sinukapar di Pertumbuken, Sidikalang(?) Sarintono.
  13. Sembiring Keling di Juhar dan Rajatengah.
  14. Sembiring Bunuh Aji di Sukatepu, Kutatonggal, dan Beganding
E. Merga Peranginangin dan cabang-cabangnya
  1. Peranginangin Namohaji di Kutabuluh.
  2. Peranginangin Sukatendel di Sukatendel.
  3. Peranginangin Mano di Pergendangen.
  4. Peranginangin Sebayang di Perbesi, Kuala, gunung dan Kuta Gerat.
  5. Peranginangin Pencawan di Perbesi.
  6. Peranginangin Sinurat di Kerenda.
  7. Peranginangin Perbesi di Seberaya.
  8. Peranginangin Ulunjandi di Juhar.
  9. Peranginangin Penggarus di Susuk.
  10. Peranginangin Pinem di Serintono (Sidikalang).
  11. Peranginangin Uwir di Singgamanik.
  12. Peranginangin Laksa di Juhar.
  13. Peranginangin Limbeng di Kuta Jurung, Biru-Biru, Deli Serdang.
  14. Peranginangin Singarimbun di Mardinding , Kutambaru dan Temburun.
  15. Peranginangin Keliat di Mardinding.
  16. Peranginangin Kacinambun di Kacinambun.
  17. Peranginangin Bangun di Batukarang.
  18. Peranginangin Tanjung di Penampen dan Berastepu.
  19. Peranginangin Benjerang di Batukarang
Sebagian dari marga Peranginangin dan Sembiring dapat kawin sesamanya (antar cabang merga).
Ada pula merga yang melakukan Sejandi yaitu perjanjian tidak saling mengambil atau tidak mengadakan perkawinan antar merga bersangkutan, misalnya : antara Sembiring Tekang dengan Karokaro Sinulingga dan antara Karokaro Sitepu dengan Peranginangin Sebayang.

KARO ADALAH IDENTITASKU!

Suku Karo adalah suku yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Sumatera Utara, Indonesia. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas.

Eksistensi Kerajaan Haru-Karo
Kerajaan Haru-Karo (Kerajaan Aru) mulai menjadi kerajaan besar di Sumatera, namun tidak diketahui secara pasti kapan berdirinya. Namun demikian, Brahma Putra, dalam bukunya "Karo dari Zaman ke Zaman" mengatakan bahwa pada abad 1 Masehi sudah ada kerajaan di Sumatera Utara yang rajanya bernama "Pa Lagan". Menilik dari nama itu merupakan bahasa yang berasal dari suku Karo. Mungkinkah pada masa itu kerajaan haru sudah ada?, hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.(Darwan Prinst, SH :2004)
Kerajaan Haru-Karo diketahui tumbuh dan berkembang bersamaan waktunya dengan kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Johor, Malaka dan Aceh. Terbukti karena kerajaan Haru pernah berperang dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Haru pada masa keemasannya, pengaruhnya tersebar mulai dari Aceh Besar hingga ke sungai Siak di Riau.
Terdapat suku Karo di Aceh Besar yang dalam bahasa Aceh disebut Karee. Keberadaan suku Haru-Karo di Aceh ini diakui oleh H. Muhammad Said dalam bukunya "Aceh Sepanjang Abad", (1981). Ia menekankan bahwa penduduk asli Aceh Besar adalah keturunan mirip Batak. Namun tidak dijelaskan keturunan dari Batak mana penduduk asli tersebut. Sementara itu, H. M. Zainuddin dalam bukunya "Tarich Atjeh dan Nusantara" (1961) mengatakan bahwa di lembah Aceh Besar disamping terdapat kerajaan Islam terdapat pula kerajaan Karo. Selanjunya disebutkan bahwa penduduk asli atau bumi putera dari ke-20 mukim bercampur dengan suku Karo. Brahma Putra, dalam bukunya "Karo Sepanjang Zaman" mengatakan bahwa raja terakhir suku Karo di Aceh Besar adalah Manang Ginting Suka.
Kelompok karo di Aceh kemudian berubah nama menjadi "Kaum Lhee Reutoih" atau Kaum Tiga Ratus. Penamaan demikian terkait dengan peristiwa perselisihan antara suku Karo dengan suku Hindu di sana yang disepakati diselesaikan dengan perang tanding. Sebanyak tiga ratus (300) orang suku Karo akan berkelahi dengan empat ratus (400) orang suku Hindu di suatu lapangan terbuka. Perang tanding ini dapat didamaikan dan sejak saat itu suku Karo disebut sebagai kaum tiga ratus dan kaum Hindu disebut kaum empat ratus.
Dikemudian hari terjadi pencampuran antar suku Karo dengan suku Hindu dan mereka disebut sebagai kaum Ja Sandang. Golongan lainnya adalah Kaum Imeum Peuet dan Kaum Tok Batee yang merupakan campuran suku pendatang, seperti: Kaum Hindu, Arab, Persia, dan lainnya.

Wilayah Pengaruh Suku Karo
 Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Tanah Karo. Kota yang terkenal dengan di wilayah ini adalah Brastagi dan Kabanjahe. Brastagi merupakan salah satu kota turis di Sumatera Utara yang sangat terkenal dengan produk pertaniannya yang unggul. Salah satunya adalah buah jeruk dan produk minuman yang terkenal yaitu sebagai penghasil Markisa Jus yang terkenal hingga seluruh nusantara. Mayoritas suku Karo bermukim di daerah pegunungan ini, tepatnya di daerah Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak yang sering disebut sebagai atau "Taneh Karo Simalem". Banyak keunikan-keunikan terdapat pada masyarakat Karo, baik dari geografis, alam, maupun bentuk masakan. Masakan Karo, salah satu yang unik adalah disebut trites.Trites ini disajikan pada saat pesta budaya, seperti pesta pernikahan, pesta memasuki rumah baru, dan pesta tahunan yang dinamakan -kerja tahun-. Trites ini bahannya diambil dari isilambung sapi/kerbau, yang belum dikeluarkan sebagai kotoran.Bahan inilah yang diolah sedemikian rupa dicampur dengan bahan rempah-rempah sehingga aroma tajam pada isi lambung berkurang dan dapat dinikmati. Masakan ini merupakan makanan favorit yang suguhan pertama diberikan kepada yang dihormati.

Kota Medan
Pendiri kota Medan adalah seorang putra Karo yaitu Guru Patimpus Sembiring Pelawi.

Kota Binjai
Kota Binjai merupakan daerah yang memiliki interaksi paling kuat dengan Kota Medan disebabkan oleh jaraknya yang relatif sangat dekat dari Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara.

Kabupaten Dairi
Wilayah Kabupaten Dairi pada umumnya sangat subur dengan kemakmuran masyarakatnya melalui perkebunan kopinya yang sangat berkualitas. Sebagian Kabupaten Dairi yang merupakan bagian Taneh Karo:
  • Kecamatan Taneh Pinem
  • Kecamatan Tiga Lingga
  • Kecamatan Gunung Sitember
Kabupaten Aceh Tenggara
Taneh Karo di kabupaten Aceh Tenggara meliputi:
  • Kecamatan Lau Sigala-gala (Desa Lau Deski, Lau Perbunga, Lau Kinga)
  • Kecamatan Simpang Simadam
Marga
Suku Karo memiliki sistem kemasyarakatan atau adat yang dikenal dengan nama merga silima, tutur siwaluh, dan rakut sitelu. Merga disebut untuk laki-laki, sedangkan untuk perempuan yang disebut beru. Merga atau beru ini disandang di belakang nama seseorang. Merga dalam masyarakat Karo terdiri dari lima kelompok, yang disebut dengan merga silima. Kelima merga tersebut adalah:
  1. Karo-karo : Barus, Bukit, Gurusinga, Kaban, Kacaribu dll (Jumlah = 18)
  2. Tarigan : Bondong, Ganagana, Gerneng, Purba, Sibero dll (Jumlah = 13)
  3. Ginting: Munthe, Saragih, Suka, Ajartambun, Jadibata dll (Jumlah = 16)
  4. Sembiring: Sembiring si banci man biang (sembiring yang boleh makan anjing): Keloko, Sinulaki, Kembaren, Sinupayung (Jumlah = 4); Sembiring simantangken biang (sembiring yang tidak boleh makan Anjing): Brahmana, Depari, Meliala, Pelawi dll (Jumlah = 14)
  5. Perangin-angin: Bangun, Kacinambun, Perbesi,Sebayang dll (Jumlah = 18)
Total semua submerga adalah = 84
Kelima merga ini masih mempunyai submerga masing-masing. Setiap orang Karo mempunyai salah satu dari merga tersebut. Merga diperoleh secara turun termurun dari ayah. Merga ayah juga merga anak. Orang yang mempunyai merga atau beru yang sama, dianggap bersaudara dalam arti mempunyai nenek moyang yang sama. Kalau laki-laki bermarga sama, maka mereka disebut (b)ersenina, demikian juga antara perempuan dengan perempuan yang mempunyai beru sama, maka mereka disebut juga (b)ersenina. Namun antara seorang laki-laki dengan perempuan yang bermerga sama, mereka disebut erturang, sehingga dilarang melakukan perkawinan, kecuali pada merga Sembiring dan Peranginangin ada yang dapat menikah di antara mereka.



Senin, 26 Desember 2011

INI MUSIKKU!!


Musik adalah bagian dari hidup yang selalu kita lantunkan, dimanapun kita berada terdapat musik yang terlantun. Musik juga sangat berpengaruh dalam kehidupan, musik dapat menggambarkan ekspresi dari diri kita, bagaimana kita, apa yang terjadi tentang kita, dan lainnya.
Berikut saya akan memaparkan beberapa pengertian dan aliran musik.

Musik adalah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda-beda berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Definisi sejati tentang musik juga bermacam-macam:
  • Bunyi/kesan terhadap sesuatu yang ditangkap oleh indera pendengar
  • Suatu karya seni dengan segenap unsur pokok dan pendukungnya.
  • Segala bunyi yang dihasilkan secara sengaja oleh seseorang atau kumpulan dan disajikan sebagai musik
Beberapa orang menganggap musik tidak berwujud sama sekali.
Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

Berikut adalah daftar aliran/genre utama dalam musik. Masing-masing genre terbagi lagi menjadi beberapa sub-genre. Pengkategorian musik seperti ini, meskipun kadang-kadang merupakan hal yang subjektif, namun merupakan salah satu ilmu yang dipelajari dan ditetapkan oleh para ahli musik dunia.


  • Musik Klasik
  • Musik rakyat/musik tradisional
  • Musik keagamaan
    1. Gambus
    2. Kasidah
    3. Nasyid
  • Blues
  • Jazz
  • Country
  • Rock
  • Pop
  • RnB
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, dunia musik mengalami banyak perkembangan. Banyak jenis musik baru yang lahir dan berkembang. Contohnya musik triphop yang merupakan perpaduan antara beat-beatmusik pop yang ringan dan enak didengar. Contoh musisi yang mengusung jenis musik ini adalah Frou Frou, Sneaker Pimps dan Lamb. Ada juga hip-hop rock yang diusung oleh Linkin Park. Belum lagi dance rock dan neo wave rock yang kini sedang in. banyak kelompok musik baru yang berkibar dengan jenis musik ini, antara lain Franz Ferdinand, Bloc Party, The Killers, The Bravery dan masih banyak lagi. elektronik dengan

Bahkan sekarang banyak pula grup musik yang mengusung lagu berbahasa daerah dengan irama musik rock, jazz dan blues. Grup musik yang membawa aliran baru ini di Indonesia sudah cukup banyak salah satunya adalah Funk de Java yang mengusung lagu berbahasa Jawa dalam musik rock. 




Minggu, 25 Desember 2011

HIDUP BUKAN MUDAH, TAPI HIDUP ITU INDAH!

Ketika kita bisa membaca dan mengkaji setiap perjalanan hidup yang menimpa diri sendiri, maka itu adalah suatu anugerah terindah. Dan ketika kita bisa menyikapi serta memaknai setiap perjalanan hidup yang menimpa kehidupan orang lain, maka itu adalah suatu keuntungan besar.

Hal yang paling berharga dalam kehidupan ialah merasakan kenikmatan persaudaraan, kedekatan, dan cinta yang di dasari oleh kasih. Karena itu semua membawa kita dalam kedamaian, ketenangan jiwa yang sangat berpengaruh pada kehidupan kita.

Sepatutnya dan sepantasnya kita juga bersyukur atas anugerah, berkat, kesehatan, rezeki yang di berikan oleh Tuhan. Karena Dialah yang memberi kita akal dan budi untuk berpikir dalam menghadapi hidup kelam ini. Dan janganlah lupakan dia sebagi Penciptamu, karena dia sungguh dahsyat, agung dan berkuasa atas apa yang ada di dunia ini.

Hidup hanya sekali, jadikan dirimu berharga buat semua orang, karena ingatlah, setiap kita memberi kebaikan maka ada balasan dari tindakan kita tersebut, tetapi janganlah kamu sekalian menginginkan itu semua jika tidak ada ketulusan dalam hati pada setiap tindakan.

JADIKAN DIRIMU BERHARGA DALAM HIDUP!